Awardee Beasiswa Unggulan 2018

 

Sedikit cerita mengenai pengalaman menjadi salah satu awarde Beasiswa Unggulan (BU) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Puji Tuhan, kuasa Tuhan Yesus yang begitu dahsyat, salah satu jalan menuju Master sudah dibuka.

Awalnya saya hanya sekedar ikut-ikutan teman, bahkan sama sekali tidak punya niat untuk mengikuti program beasiswa ini, karena saya rasa persayaratannya cukup berat. Namun dukungan dan motivasi dari teman –temanku yang membuat saya berjuang untuk mendapatkan beasiswa ini. Setelah adanya motivasi dari mereka, Awal bulan Desember 2017 sampai awal Maret 2018, saya mulai disibukan dengan persyaratan administrasi untuk pengajuan beasiswa ini, seperti Ijazah, Transkrip Nilai, LoA, IELTS/TOEFL, Surat Rekoomendasi, Motivation Letter dan Proposal Rencana Studi.

TOEFL untuk syarat berbahasa sempat membuatku drop, karna waktu itu saya sama sekali belum memilikinya. Kemudian saya menjadwalkan untuk mengambil test TOEFL dan tentunya sebelum test saya mengambil kelas TOEFL Preparation. First try hasilnya lumayan not bad masih dapat score 450 rasanya belum puas karna belum hit score 500. Mengetahui kekurangan kita itu sangat penting, jadi kita bisa meanaruh effort yang lebih untuk memperbaiki kekurangan kita. Ahkhir Februari, test TOEFL kedua kali ini saya agak deg-degkan karna merupakan kesempatan terakhir buat melingkapi pesyaratan pangajuan BU Batch 1 ini. Selang 2 minggu hasil testnya keluar dan Puji Tuhan memenuhi persyaratan untuk pengajuan BU.

Setelah menyelesaikan semua kelengkapan administrasi tanpa pikir panjang saya mendaftar untuk menjadi calon peserta awardee di laman http://buonline.beasiswaunggulan.kemendikbud.go.id/. Setelah mendaftar saya mendapat user dan password yang nantinya digunakan untuk halaman pribadi calon awardee mengunggah seluruh data-data yang dipersyaratkan oleh tim seleksi administrasi BU.

Bulan pun berganti yang dinanti pun tiba, email dari BPKLN Kemendikbud menghiasi notifikasi smartphoneku kala itu dan benar itu adalah pemberitahuan bahwa saya telah dinyatakan lulus tahap 1 dan berhak melanjutkan ketahap 2 wawancara.

Awal puasa rahmadan merupakan hari seleksi tahap 2 dan hari itu jugalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Universitas Muhammadiyah Makassar. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WITA terlihat tim pewawancara Beasiswa Unggulan memasuki ruangan. Dari atributnya terlihat bahwa mereka adalah para pakar psikologi dari Universitas – universitas yang cukup terkenal di Indonesia. Setelah mengisi berita acara para calon awardee pun satu persatu dipanggil untuk verifikasi berkas dan kemudian dilanjutkan untuk wawancara.

Nomor urut ke-4 meja yang ke-5, giliranku pun tiba. Saya dipersilahkan duduk disambut dengan senyuman hangat dan jabat tangan. (ala CS bank nawarin kartu kredit, wkwkwk). Baik silahkan perkenalkan dirinya dahulu, saya pun memperkenalkan diri. Respon pewawancara pun sempat membuatku kaget. “wahhh, jauh banget datang Ke makassar, NTT jauh lohh, tapi ehh tunggu, Jurusan Pendidikan matematika yahh? Kok badannya gede gitu? Kayak tukang pukul, “sahutnya sambil tertawa cengingisan”. Petanyaan-pertanyaan berikutnya tidak ada yang terlalu sulit, bisa dibilang semua pertanyaan hanya seputaran personalnya kita.  Intinya tim pewawancara ingin melihat sejauh mana kita mengenal diri sendiri dan bagaimana kita berkontribusi di Universitas atau institusi penyelenggara beasiswa kedepannya nanti.

Dari semua pertanyaan yang diajukan pewawancara, saya masih ingat sampai sekarang ada satu pertanyaan yang membuat beliau terdecak kagum dengan apa yang saya sampaikan. “Bagaimana cara kamu agar kamu bisa bangkit dari satu kegagalan?”. Setelah itu pun menceritakan pengalaman saya di tahun 2014, ketika saya bertanding di Pekan Olahraga Sulawesi Selatan tahun 2014 di Bantaeng. Saya ini kebetulan seorang atlet Bu, yahh meskipun prestasinya tidak seperti atlet-atlet lain yang begitu waww. Di tahun 2014 yang lalu Bu, saya pernah mengalami kegagalan dalam hidup saya, ketika saya yang ditargetkan untuk menyumbangkan medali emas untuk kontingen Kota Makassar untuk kelas perorangan, namun saya hanya meraih medali perunggu. Tapi saya tidak berhenti sampai disitu Bu, saya yakin, saya percaya, kalau saya akan tampil lebih baik lagi dan membayar kesalahan saya di hari pertama. Di hari kedua saya dikasih kesempatan untuk bermain di kelas beregu. Awalnya saya tidak sangka kalau saya yang didaftarkan, karena saya pikir saya sudah gagal di hari pertama dan mungkin untuk kategori beregu putra  saya tidak akan dipilih karena masih banyak juga teman-temanku yang lain yang jauh lebih baik dari saya, karena untuk kelas beregu yang dipilih hanya lima orang saja, sedangkan saat itu dalam tim saya ada 8 orang. Sebelum pertandingan dimulai saya merasa kaget ketika nama-nama yang bermain di ketegori beregu dibacakan pelatih saya. Bagaimana tidak, saya yang di kategori perorangan bermain di kelas -73 Kg, sedangkan di kategori beregu dimainkan di kelas +90 Kg. awalnya saya merasa pesimis kalau di hari kedua ini saya akan mampu memberikan hasil yang lebih baik dari hari pertama. Namun, setelah pembacaan nama-nama tersebut, kedua pelatih saya datang menghampiri saya, “Saver kamu pasti bisa, kami percaya dengan kemampuan kamu, lupakan apa yang kamu dapat di hari kemarin dan ayoo fokus untuk pertandingan hari ini, bisa yahh, kamu hari ini dapat medali emas!!!”. mendengar ucapan dari pelatih saya tersebut, sontak membuat saya menjadi optimis, dari yang awalnya tidak percaya diri untuk menjalani pertandingan di hari itu. Pertandingan pun tiba, dan pertandingan pertama kami sudah dihadapkan dengan ujian yang begitu berat. Bagaimana tidak, saya yang akan menjadi penentu apakah kami bisa lolos ke babak selanjutnya atau tidak setelah skornya imbang 2-2. Dan puji Tuhan, kuasa Tuhan yang begitu luar biasa, saya memenangkan pertandingan. Tim kami menang dengan skor tipis 3-2. Pertandingan selanjutnya pun kami dengan mudah menang dengan skor 5-0 dan di pertandingan final kami kami menang dengan skor 4-1, sekaligus memberikan kami medali emas beregu putra. Mendengar apa yang saya ceritakan ini, pewawancara pun berdetak kagum, wahh kamu hebat Saver. Jarang banget lohh ada orang yang bergelut di bidang matematika, tetapi di satu sisi dia juga berprestasi di dunia olahraga. “Kamu hebat”, sahutnya sambil mengacungkan jempol ke saya. Jujur mendengar apa yang disampaikan pewawancara saat itu, saya merasa sangat senang dan ada harapan kalau saya akan lolos sebagai awarde beasiswa unggulan, Kemendikbud.

Hampir sejam berlalu dan kiranya merasa cukup, pewawancara pun mengakhiri sesi dengan ucapan terima kasih dan semoga lulus.

Pengumuman yang dinanti, Rabu (31/05/2018) adalah hari pengumuman final seleksi Beasiswa Unggulan. Dumba-dumba, rasa harap dan cemas membuatku sulit tertidur malam sebelumnya. Mulai dari subuh berulangkali saya membuka laman BU dan inbox email, pengumuman pun tak kunjung datang hingga pukul 21.52 WITA email dari BPKLN Kemendikbud berbunyi dan menyampaikan permohonan maaf. Hancur sudah hatiku, bagaimana tidak, itu adalah pemberitahuan penundaan pengumuman hasil seleksi BU yang semula diumumkan tanggal 31 Mei 2018 menjadi 1 Juni 2018. (tambah tidak bisa tidur…teriak…guling-guling…gigt baju…banting HP, tapi jangan sayang….). Pasrah dan menyerahkan semua hasilnya pada Tuhan yang maha kuasa. Tepat pukul 11.01 WITA, Puji Tuhan, Tuhan Yesus menjawab semua harapan dan kecemasanku, email masuk yang isinya menyatakkan bahwa saya lulus seleksi dan menjadi penerima Beasiswa Unggulan Bacth 1 2018. Sungguh nikmat yang luar biasa takdir Tuhan begitu indah. Tidak ada kata lain selain ungkapan syukur yang bisa saya lakukan.

 

Komentar